Kamis, 23 Oktober 2014

Bismillahirrahmanirrahim

“Amal islami bukanlah aktivitas yang cukup dekerjakan disaat anda memiliki waktu luang dan anda bisa tinggalkan saat sibuk. Tidak, amal islami agung dan teramat mulia jika diperlakukan seperti itu.”
Dr. Najlh Ibrahim (Buku Kepada Aktivis Muslim)

SUPERMAN DI KAMPUS JUGA HARUS JADI PANUTAN

Modern ini, lingkungan dimanapun dengan mudah dimasuki, dicampuri, bahkan ekstrim-nya dirubah sesuai keinginan orang atau pihak yang berpengaruh di dalamnya. Seperti yang dikatakan kebanyakan orang, lingkungan bisa mempengaruhi diri, pribadi dan perilaku seseorang. Haruslah lingkungan itu terjadi kesetimbangan antara faktor sosial, religi, keberagaman dan faktor lain penunjang kehidupan bermasyarakat.

Kampus merupakan satu tempat ideal untuk mengembangkan diri dan potensi seorang. Apalagi menjadi mahasiswa, sudah hal yang wajib menempa dirinya, sehingga mampu membentuk dirinya sesuai dengan peran fungsi manusia. Namun, nilai kehidupan berkampus sudah bergeser dari apa yang telah digariskan kepada the man with happy selected few ini. Aura untuk belajar, mengkritisi kebijakan, memberikan teknologi untuk rakyat, dan hal-hal keteladanan mahasiswa sebagai perwujudan wakil rakyat non formal sudah mulai memudar. Tidak adanya sosok teladan inilah salah satu dari sekian banyak faktor yang berpengaruh di lingkungan. Tak ada yang bisa dipungkiri aktivis kampus sekarang seorang tidak punya kharisma sehingga kurang dipandang. Munculah paradigma di lingkungan tersebut bahwa tidak ada yang bisa di contoh.

Di sinilah tugas kita sebagai mahasiswa yang lebih mendalami ilmu keislaman dimana islam berisi ilmu yang komplek untuk berkehidupan. Masalah yang dialami umat sekrang adalah mereka sudah condong menjadi pengikut kehidupan berhura-hura. Ya, tentu saja mereka mudah terpengaruh apalagi di era yang memanjakan ini, sungguh nafsu telah memperbudak umat. Konotasinya malah menjelek-jelekan mahasiswa. Justrul menjadi senjata makan tuan bila mahasiswa dalam kondisi seperti ini koar-koar untuk rakyat. Bisa jadi rakyat malah berfikir mahasiswa saja tidak mampu mengendalikan diri sendiri kok mau membantu mensejahterakan rakyat. Di sinilah harus ada sosok berpengaruh untuk menuntaskan persoalan ini.

Menjadi tanggung jawab seorang aktivis, apalagi kader-kader yang menempa diri mereka untuk kemaslahatan umat. Wajib hukumnya mereka harus muncul kepermukaan sebagai obat dari penyakit manusia sekarang. Kader-kader masjid harus bisa membuat dirinya modern namun tidak sekali pun meninggalkan nilai teladan, santun dan juga nilai yang tercerminkan oleh pendakwah dan aktivis islam. Mengingat kampus berisi kaum akademisi dan intelektual, tentunya syarat cerdas dan kreatif untuk membawa nilai kebaikan harus dimiliki. Tak bisa dipungkiri bahwasannya tidak semua orang bisa menerima kebaikan yang kita bawa. Itulah ujian dari jalan dakwah ini. Poinnya adalah kita diuji ketawaqalan dari ikhtiar kita oleh Allah SWT. Jaminannya adalah amal jariyah kita bertambah.

Satu lagi ujian dakwah bagi aktivis adalah objek kita terkena islamphobia. Ya, seorang malah takut terhadap muslim, parahnya seorang muslim malah takut menjadi muslim. Pergi ke masjid sudah terlihat aneh, pergi ke pengajian juga menjadi hal yang aneh, bahkan saat mengenakan pakaian muslim, orang sekitar malah mengira jaringan terosis apalah. Naudzubilahiminzalik. Aparahnya seoarang wanita dengan bangganya membuka aurat mereka, mengenakan pakaian ketat pengundang rasa kepo dan nafsu lawan jenisnya. Itu baru satu dari segelintur dari fenomena muslim yang terjadi saat ini. Tentunya tugas kita sebagai aktivis sangat banyak, pekerjaan rumah sebagai pendakwah juga bertambah berat. Namun jangan khawatir, Allah pasti akan selalu menolong hambanya. Seperti janji-Nya “barang siapa menolong agama Allah, maka Allah akan menolongmu.” Insyaallah.

Seperti kutipan dari Dr. Najlh Ibrahim di atas, bawasannya kita harus selalu menjadi muslim yang bisa menjadi panutan di segala kondisii apapun, kapanpun, dimanapun. Tidak seperti kita mengikuti kepelatihan, kepemanduan, organisasi yang bila kita sudah tugasnya sudah berakhir, sudah ditinggalkan saja. Amal islami tidak seperti itu dan tidak berkhak diperlakukan seperti itu. Sudah barang wajib kita harus menjadi contoh di manapun, karna kita adalah pejuang dakwah. Bahkan kita lebih kuat, lebih tangguh dan lebih mulia dari Superman.

Kutipan terakhir yang saya ambil dari buku “La Tahzan” karya Dr. ‘Aidh al-Qarni. Berikut isinya, “Adalah seyogyanya bila kita merapatkan barisan, menyatukan langkah, saling memaafkan dan berdamai kembali, mengambil hal-hal yang mudah kita lakukan, meninggalkan hal-hal yang menyulitkan, menutup mata dari beberapa hal untuk saat-saat tertentu, meluruskan langkah, dan mengesampingkan berbagai hal yang menggangu”

HIDUP MAHASISWA, HIDUP RAKYAT INDONESIA, ALLAHUAKBAR
KARNA TUHAN UNTUK INDONESIA


MANAS ZULFIKAR

4213100063

Tidak ada komentar:

Posting Komentar