Bismillahirrahmanirrahim
“Amal islami bukanlah aktivitas
yang cukup dekerjakan disaat anda memiliki waktu luang dan anda bisa tinggalkan
saat sibuk. Tidak, amal islami agung dan teramat mulia jika diperlakukan
seperti itu.”
Dr. Najlh Ibrahim (Buku Kepada
Aktivis Muslim)
SUPERMAN DI KAMPUS JUGA HARUS
JADI PANUTAN
Modern ini, lingkungan dimanapun dengan mudah
dimasuki, dicampuri, bahkan ekstrim-nya
dirubah sesuai keinginan orang atau pihak yang berpengaruh di dalamnya. Seperti
yang dikatakan kebanyakan orang, lingkungan bisa mempengaruhi diri, pribadi dan
perilaku seseorang. Haruslah lingkungan itu terjadi kesetimbangan antara faktor
sosial, religi, keberagaman dan faktor lain penunjang kehidupan bermasyarakat.
Kampus merupakan satu tempat ideal untuk
mengembangkan diri dan potensi seorang. Apalagi menjadi mahasiswa, sudah hal
yang wajib menempa dirinya, sehingga mampu membentuk dirinya sesuai dengan
peran fungsi manusia. Namun, nilai kehidupan berkampus sudah bergeser dari apa
yang telah digariskan kepada the man with
happy selected few ini. Aura untuk belajar, mengkritisi kebijakan,
memberikan teknologi untuk rakyat, dan hal-hal keteladanan mahasiswa sebagai perwujudan
wakil rakyat non formal sudah mulai memudar. Tidak adanya sosok teladan inilah
salah satu dari sekian banyak faktor yang berpengaruh di lingkungan. Tak ada
yang bisa dipungkiri aktivis kampus sekarang seorang tidak punya kharisma
sehingga kurang dipandang. Munculah paradigma di lingkungan tersebut bahwa
tidak ada yang bisa di contoh.
Di sinilah tugas kita sebagai mahasiswa yang lebih
mendalami ilmu keislaman dimana islam berisi ilmu yang komplek untuk
berkehidupan. Masalah yang dialami umat sekrang adalah mereka sudah condong
menjadi pengikut kehidupan berhura-hura. Ya, tentu saja mereka mudah
terpengaruh apalagi di era yang memanjakan ini, sungguh nafsu telah memperbudak
umat. Konotasinya malah menjelek-jelekan mahasiswa. Justrul menjadi senjata
makan tuan bila mahasiswa dalam kondisi seperti ini koar-koar untuk rakyat. Bisa jadi rakyat malah berfikir mahasiswa
saja tidak mampu mengendalikan diri sendiri kok mau membantu mensejahterakan
rakyat. Di sinilah harus ada sosok berpengaruh untuk menuntaskan persoalan ini.
Menjadi tanggung jawab seorang aktivis, apalagi
kader-kader yang menempa diri mereka untuk kemaslahatan umat. Wajib hukumnya
mereka harus muncul kepermukaan sebagai obat dari penyakit manusia sekarang.
Kader-kader masjid harus bisa membuat dirinya modern namun tidak sekali pun
meninggalkan nilai teladan, santun dan juga nilai yang tercerminkan oleh
pendakwah dan aktivis islam. Mengingat kampus berisi kaum akademisi dan
intelektual, tentunya syarat cerdas dan kreatif untuk membawa nilai kebaikan
harus dimiliki. Tak bisa dipungkiri bahwasannya tidak semua orang bisa menerima
kebaikan yang kita bawa. Itulah ujian dari jalan dakwah ini. Poinnya adalah
kita diuji ketawaqalan dari ikhtiar kita oleh Allah SWT. Jaminannya adalah amal
jariyah kita bertambah.
Satu lagi ujian dakwah bagi aktivis adalah objek kita
terkena islamphobia. Ya, seorang
malah takut terhadap muslim, parahnya seorang muslim malah takut menjadi
muslim. Pergi ke masjid sudah terlihat aneh, pergi ke pengajian juga menjadi
hal yang aneh, bahkan saat mengenakan pakaian muslim, orang sekitar malah
mengira jaringan terosis apalah. Naudzubilahiminzalik.
Aparahnya seoarang wanita dengan bangganya membuka aurat mereka, mengenakan
pakaian ketat pengundang rasa kepo
dan nafsu lawan jenisnya. Itu baru satu dari segelintur dari fenomena muslim
yang terjadi saat ini. Tentunya tugas kita sebagai aktivis sangat banyak,
pekerjaan rumah sebagai pendakwah juga bertambah berat. Namun jangan khawatir,
Allah pasti akan selalu menolong hambanya. Seperti janji-Nya “barang siapa
menolong agama Allah, maka Allah akan menolongmu.” Insyaallah.
Seperti kutipan dari Dr. Najlh Ibrahim di atas,
bawasannya kita harus selalu menjadi muslim yang bisa menjadi panutan di segala
kondisii apapun, kapanpun, dimanapun. Tidak seperti kita mengikuti kepelatihan,
kepemanduan, organisasi yang bila kita sudah tugasnya sudah berakhir, sudah
ditinggalkan saja. Amal islami tidak seperti itu dan tidak berkhak diperlakukan
seperti itu. Sudah barang wajib kita harus menjadi contoh di manapun, karna
kita adalah pejuang dakwah. Bahkan kita lebih kuat, lebih tangguh dan lebih
mulia dari Superman.
Kutipan terakhir yang saya ambil dari buku “La
Tahzan” karya Dr. ‘Aidh al-Qarni. Berikut isinya, “Adalah seyogyanya bila kita
merapatkan barisan, menyatukan langkah, saling memaafkan dan berdamai kembali,
mengambil hal-hal yang mudah kita lakukan, meninggalkan hal-hal yang
menyulitkan, menutup mata dari beberapa hal untuk saat-saat tertentu,
meluruskan langkah, dan mengesampingkan berbagai hal yang menggangu”
HIDUP MAHASISWA, HIDUP RAKYAT
INDONESIA, ALLAHUAKBAR
KARNA TUHAN UNTUK INDONESIA
MANAS ZULFIKAR
4213100063
Tidak ada komentar:
Posting Komentar