Sudah beberapa bulan tak pulang, rindu akan ibu, adek dan rumah kian mencuat. Baru kemaren ibu berterima kasih atas pemberian kecil dari ku sang anak yang pasti disayangnya hehehe. Di telepon tampak ibuk tertawa sambil berterima kasih dengan nada agak berteriak di awal malam. "waahhh leee makasih yaaaa hehehehe," suara ibu di telepon terasa nyaring walau tak ku loudspeaker HPku. berbasa-basi agak lama tampaknya ibu belum mau menutup telpon. Mencoba peka aku bertanya dalam hati, iki ibuk mesti kangen. Maklum ibuk di rumah hanya bersama adek. Ku bilang pada ibuk dengan nada lembut (hehehehe) "maaf buk besok libur 3 hari belum bisa pulang”. Suara ibu mulai menurun seiring pulsanya yang tersedot agak banyak. Malam itu aku merenung tentang kebahagiaan ibuku. Aku menganalisis secara tidak ilmiah, kenapa setiap kali bertelpon dengan ibuk, selalu yang ditanyakan kapan pulang. Walaupun pertanyaan yang sering kuharapkan adalah, masih punya uang le. Hehehe. Selalu tanya kapan pulang. Kapan pulang. Padahal jarak magelang surabaya hanya 360 km. Jarak yang bisa ditempuh bis dengan kecepatan 90an km/jam dalam waktu 9an jam dengan bonus macet, lalu lintas dan sebagainya. Maka timbul pertanyaan lain lagi, memangnya kalo aku pulang ibu bahagia? Ahhh sudah lah dengan banyak pertanyaan. Kalo memang benar jika dengan kehadiran kita di rumah bisa membuat ibuk(orang tua) kita bahagia, maka seharusnya cita-citaku dan sebgaian orang (ingin membahagiakan orang tua) sudah terwujud. Sesimpel itukah? Aku terlalu gengsi untuk tanya ke ibuku.Dahulu aku pikir membahagiakan orang tua itu kita harus jadi orang sukses. Tolok ukur suksespun beragam. Ada yang bilang harus kaya, ada yang ingin jadi konglomerat, birokrat, teknokrat, bahkan sampe menyediakan kehidupan bagi orang yang melarat. Parameter membahagiakan orang tua ini pun harus besar. Harus WAH. Harus bisa jadi ini itu dengan hasil yang bahkan semua orang mengakui. Setelah menelaah lagi, membayangkan ketika di rumah, dan ketika ditelepon ibuk, aku menyimpulkan dengan yakin bahwa anak itulah alasan orang tua kita bahagia. Aku yakin itu.Lihat saja kenapa ibuk kita begitu senang ketika kita tersenyum dan tertidur pulas. Kenapa ibu kita begitu sedih ketika flu kecil maupun flu yang berat. Kenapa ayah kita tak kenal lelah membanting tulangnya guna menyediakan uang jajan kepada anaknya. Semua itu pastilah agar anaknya mendapatkan suasana hidup yang kondusif, yang aman. Maka harusnya kita semua setuju bahwa membahagiakan orang tua itu adalah bagaimana kita bersyukur punya orang tua yang begitu membahagiakan kita. Bagaimana kita bersyukur? Monggo kita semua punya cara masing-masing. Bagiku bersyukur karena memiliki orang tua super duper keren ini adalah dengan mendoakan ibuk agar tetap sehat, dan mendoakan ayah agar selalu tersenyum di surga-Nya Allah kelak. Dengan jujur kepada ibuk, dengan selalu tersenyum, dengan rajin meng-sms kabarku ke ibuk. Semoga tindakan itu membuat bahagia. AminMari kita tengok lagi masa lalu kita masing-masing bagaimana kita membahagiakan orang tua kita. Kita mulai ketika Allah memasukan nyawa kita ke dalam rahim ibu kita. Betapa bahagianya ibuk saat pertama kali tahu dirinya mengandung kita, ayah kita tahu saat istrinya mengandung calon ayahnya. (cie calon ayah). Kemudian saat kita lahir. Betapa pecah kebahagiaan orang tua kita menyasikan wajah mungil kita. Bahagia walau yang terdengar tangisan kita. Dengan bangga meng-azankan kita. Dengan PD-nya pula memberi nama kita (tanpa persetujuan kita). Lalu saat kita mulai bisa tersenyum menanggapi wajah-wajah konyolnya (mencoba menghibur), orang tua kita senangnya pasti minta ampun. Lalu ketika kita bisa tengkurap, merangkak, duduk sampe bisa berjalan. Wuuuh orang tua kita seneng gak tuh. Apalagi saat ketika ayah kita memaksa kita saat bayi bilang “papa!” trus kita bilang “Paapa”(dengan suara khas bayi), wuhhhh itu ayah pasti ngadakan syukuraaan se-Kampung deh merayakan kemajuan bayinya yang bisa bilang papa.Ternyata proses kita dari balita menjadi anak kecil(mulai bandel tuh) membuat orang tua bahagia. Sederhana sekali membauat bahagia orang tua kita. Namun itu tingkatan bayi. Berbeda saat kita SD kita membahagiakan orang tua dengan cara belajar yang giat dan juara kelas mungkin. Atau saat SMP bisa ikut lomba-lomba (walaupun lomba gambar) bisalah membuat bahagia. Dan seterusnya. Tentu kita punya cara membahagiakan orang tua dengan cara yang terbaik sesuai waktunya.Maka jangan berpikir terlalu muluk-muluk. Khawatirnya begini. Jika kita berhasil jadi orang besar dan hebat seperti bupati. Mungkin orang tua kita bangga, tapi sedih. Mungkin perhatian kita yang seharusnya buat mereka, buat masa tua mereka jadi terkalahkan oleh kepentingan orang lain. Jadi berpikirlah simpel. Mumpung ada kesempatan nih, mungin bisa SMS atau tanya kabar lah. Atau dengan kebiasaan yang baik seperti berkata jujur, menyapu halaman rumah membersihkan apalah dirumah. Atau bahkan memasakan air untuk ibu mandi air hangat bisa tuh. Hehehe terkadang hal simpel itu bisa membawa dampak yang besar. Manas ZulfikarYang merantau dan lagi memikirkan rumah.
Gak usah serius-serius. Keep Unyu aja. Jelek ngaku ganteng kan gak masalah. Yang penting woles.
Kamis, 24 Maret 2016
KEBANGGAN ORTU ITU YA KAMU
Sudah beberapa bulan tak pulang, rindu akan ibu, adek dan rumah kian mencuat. Baru kemaren ibu berterima kasih atas pemberian kecil dari ku sang anak yang pasti disayangnya hehehe. Di telepon tampak ibuk tertawa sambil berterima kasih dengan nada agak berteriak di awal malam. "waahhh leee makasih yaaaa hehehehe," suara ibu di telepon terasa nyaring walau tak ku loudspeaker HPku. berbasa-basi agak lama tampaknya ibu belum mau menutup telpon. Mencoba peka aku bertanya dalam hati, iki ibuk mesti kangen. Maklum ibuk di rumah hanya bersama adek. Ku bilang pada ibuk dengan nada lembut (hehehehe) "maaf buk besok libur 3 hari belum bisa pulang”. Suara ibu mulai menurun seiring pulsanya yang tersedot agak banyak. Malam itu aku merenung tentang kebahagiaan ibuku. Aku menganalisis secara tidak ilmiah, kenapa setiap kali bertelpon dengan ibuk, selalu yang ditanyakan kapan pulang. Walaupun pertanyaan yang sering kuharapkan adalah, masih punya uang le. Hehehe. Selalu tanya kapan pulang. Kapan pulang. Padahal jarak magelang surabaya hanya 360 km. Jarak yang bisa ditempuh bis dengan kecepatan 90an km/jam dalam waktu 9an jam dengan bonus macet, lalu lintas dan sebagainya. Maka timbul pertanyaan lain lagi, memangnya kalo aku pulang ibu bahagia? Ahhh sudah lah dengan banyak pertanyaan. Kalo memang benar jika dengan kehadiran kita di rumah bisa membuat ibuk(orang tua) kita bahagia, maka seharusnya cita-citaku dan sebgaian orang (ingin membahagiakan orang tua) sudah terwujud. Sesimpel itukah? Aku terlalu gengsi untuk tanya ke ibuku.Dahulu aku pikir membahagiakan orang tua itu kita harus jadi orang sukses. Tolok ukur suksespun beragam. Ada yang bilang harus kaya, ada yang ingin jadi konglomerat, birokrat, teknokrat, bahkan sampe menyediakan kehidupan bagi orang yang melarat. Parameter membahagiakan orang tua ini pun harus besar. Harus WAH. Harus bisa jadi ini itu dengan hasil yang bahkan semua orang mengakui. Setelah menelaah lagi, membayangkan ketika di rumah, dan ketika ditelepon ibuk, aku menyimpulkan dengan yakin bahwa anak itulah alasan orang tua kita bahagia. Aku yakin itu.Lihat saja kenapa ibuk kita begitu senang ketika kita tersenyum dan tertidur pulas. Kenapa ibu kita begitu sedih ketika flu kecil maupun flu yang berat. Kenapa ayah kita tak kenal lelah membanting tulangnya guna menyediakan uang jajan kepada anaknya. Semua itu pastilah agar anaknya mendapatkan suasana hidup yang kondusif, yang aman. Maka harusnya kita semua setuju bahwa membahagiakan orang tua itu adalah bagaimana kita bersyukur punya orang tua yang begitu membahagiakan kita. Bagaimana kita bersyukur? Monggo kita semua punya cara masing-masing. Bagiku bersyukur karena memiliki orang tua super duper keren ini adalah dengan mendoakan ibuk agar tetap sehat, dan mendoakan ayah agar selalu tersenyum di surga-Nya Allah kelak. Dengan jujur kepada ibuk, dengan selalu tersenyum, dengan rajin meng-sms kabarku ke ibuk. Semoga tindakan itu membuat bahagia. AminMari kita tengok lagi masa lalu kita masing-masing bagaimana kita membahagiakan orang tua kita. Kita mulai ketika Allah memasukan nyawa kita ke dalam rahim ibu kita. Betapa bahagianya ibuk saat pertama kali tahu dirinya mengandung kita, ayah kita tahu saat istrinya mengandung calon ayahnya. (cie calon ayah). Kemudian saat kita lahir. Betapa pecah kebahagiaan orang tua kita menyasikan wajah mungil kita. Bahagia walau yang terdengar tangisan kita. Dengan bangga meng-azankan kita. Dengan PD-nya pula memberi nama kita (tanpa persetujuan kita). Lalu saat kita mulai bisa tersenyum menanggapi wajah-wajah konyolnya (mencoba menghibur), orang tua kita senangnya pasti minta ampun. Lalu ketika kita bisa tengkurap, merangkak, duduk sampe bisa berjalan. Wuuuh orang tua kita seneng gak tuh. Apalagi saat ketika ayah kita memaksa kita saat bayi bilang “papa!” trus kita bilang “Paapa”(dengan suara khas bayi), wuhhhh itu ayah pasti ngadakan syukuraaan se-Kampung deh merayakan kemajuan bayinya yang bisa bilang papa.Ternyata proses kita dari balita menjadi anak kecil(mulai bandel tuh) membuat orang tua bahagia. Sederhana sekali membauat bahagia orang tua kita. Namun itu tingkatan bayi. Berbeda saat kita SD kita membahagiakan orang tua dengan cara belajar yang giat dan juara kelas mungkin. Atau saat SMP bisa ikut lomba-lomba (walaupun lomba gambar) bisalah membuat bahagia. Dan seterusnya. Tentu kita punya cara membahagiakan orang tua dengan cara yang terbaik sesuai waktunya.Maka jangan berpikir terlalu muluk-muluk. Khawatirnya begini. Jika kita berhasil jadi orang besar dan hebat seperti bupati. Mungkin orang tua kita bangga, tapi sedih. Mungkin perhatian kita yang seharusnya buat mereka, buat masa tua mereka jadi terkalahkan oleh kepentingan orang lain. Jadi berpikirlah simpel. Mumpung ada kesempatan nih, mungin bisa SMS atau tanya kabar lah. Atau dengan kebiasaan yang baik seperti berkata jujur, menyapu halaman rumah membersihkan apalah dirumah. Atau bahkan memasakan air untuk ibu mandi air hangat bisa tuh. Hehehe terkadang hal simpel itu bisa membawa dampak yang besar. Manas ZulfikarYang merantau dan lagi memikirkan rumah.
Rabu, 24 Februari 2016
Ternyata baru 20 masih banyak kesempatan
Hehehe kalo cerita tentang masa lalu hawa hawanya kenanganlah. Mau itu pahit mau itu manis. Itulah hidup. Tak terasa waktu sangat cepat berlalu. Ketika ngobrol tentang kenangan, sering kita bilang "rasanya baru kemaren ya". Masyaallah bukankah masa lalu itu ciptaan Allah yang luar biasa. Amazing lah. Gilaak.
Masa lalu itu bagiku seperti teman. Dia selalu ada saat aku membutuhkan. Disaat sedih, dia selalu mengingatkanku pada hal2 yang membuat sedih hilang. Seperti kala orang tua menengankan kita saat nangis. Ntah jatuh dari pohon ntah dinakali teman ntah apapun. Seperti juga kala kita sedang down sedang jatuh. Masa lalu selalu mengingatkan ku pada memori kejayaan. Kala ketika SMP menjadi ketua pramuka dan juara. Kala smp selalu ditunjuk jadi perwakilan sekolah dibanyak seminar. Kala sma dimana aku diberi kesempatan hijrah diberi kesempatan untuk jadi petinggi d kota jogja jadi penyanyi. Bisa keliling ke Indonesia menapak di tapal batas negara. Masyaallah. Sungguh masa lalu itu teman yang baik.
Layaknya teman, tentunya kadang menyenangkan kadang menyebalkan. Masa lalu pun pasti banyak juga yang menyebalkan. Ntah d jalan ketemu mantan trus ingat masa lalu. Baper deh. Ntah ktmu guru menyebalkan. Ntah kita lewat tempat2 bersejarah bagi kita. Ntah tempat pernah kita kecelakaan atau tempat kita dulu bersenang2 dengan teman. Itulah teman. Dan kita memang dekat sekali dengannya.
Memaknai hari menjelang kelahiran dan masa lalu. Saya punya kenangan yang cukup menyedihkan. Kala itu ulang tahun saya yg ke-19. Saya sudah hijrah lagi kali ini Surabaya. Dan hari itu 28 Februari 2014 haru jumat sekitar pukul 13 ayah saya meninggal. Di hari ulang tahun saya.
Maka setiap ulang tahun saya rayakan pasti teringat jelas bahwa hati itu juga ayah saya wafat.
Maka mohon banget jangan terlalu dieuforiakan ultah saya. Hehehe
Diluar itu ternyata kita masih memiliki masa depan. Ternyata kita masih 20 tahun. Ternyata kita masih punya besok, lusa, minggu depan, bulan depan. Ternyata kita masih punya 10, 20 hingga 50 tahun lagi untuk hidup. Ya diluar takdir kita masing2. Kita masih memiliki kesempatan untuk lebih baik dalam hidup ini. Maneman lah rek cuma sekali kok. Kita masih bisa melakukan banyak hal.
Kita bisa menikah dengan orang yang kita harapkan. Kita bisa berdagang. Berbisnin. Membangun rumah. Jalan-jalan. Punya anak, punya cucu.
Bukankah hidup ini akan bila kita tidak lebih baik dari kemarin.
udah deh gak usah kejebak di masa lalu. gagal move on ntar
Maka selamat menggapai mimpi gaes.
Hiduplah dan bahagialah heheh
Masa lalu itu bagiku seperti teman. Dia selalu ada saat aku membutuhkan. Disaat sedih, dia selalu mengingatkanku pada hal2 yang membuat sedih hilang. Seperti kala orang tua menengankan kita saat nangis. Ntah jatuh dari pohon ntah dinakali teman ntah apapun. Seperti juga kala kita sedang down sedang jatuh. Masa lalu selalu mengingatkan ku pada memori kejayaan. Kala ketika SMP menjadi ketua pramuka dan juara. Kala smp selalu ditunjuk jadi perwakilan sekolah dibanyak seminar. Kala sma dimana aku diberi kesempatan hijrah diberi kesempatan untuk jadi petinggi d kota jogja jadi penyanyi. Bisa keliling ke Indonesia menapak di tapal batas negara. Masyaallah. Sungguh masa lalu itu teman yang baik.
Layaknya teman, tentunya kadang menyenangkan kadang menyebalkan. Masa lalu pun pasti banyak juga yang menyebalkan. Ntah d jalan ketemu mantan trus ingat masa lalu. Baper deh. Ntah ktmu guru menyebalkan. Ntah kita lewat tempat2 bersejarah bagi kita. Ntah tempat pernah kita kecelakaan atau tempat kita dulu bersenang2 dengan teman. Itulah teman. Dan kita memang dekat sekali dengannya.
Memaknai hari menjelang kelahiran dan masa lalu. Saya punya kenangan yang cukup menyedihkan. Kala itu ulang tahun saya yg ke-19. Saya sudah hijrah lagi kali ini Surabaya. Dan hari itu 28 Februari 2014 haru jumat sekitar pukul 13 ayah saya meninggal. Di hari ulang tahun saya.
Maka setiap ulang tahun saya rayakan pasti teringat jelas bahwa hati itu juga ayah saya wafat.
Maka mohon banget jangan terlalu dieuforiakan ultah saya. Hehehe
Diluar itu ternyata kita masih memiliki masa depan. Ternyata kita masih 20 tahun. Ternyata kita masih punya besok, lusa, minggu depan, bulan depan. Ternyata kita masih punya 10, 20 hingga 50 tahun lagi untuk hidup. Ya diluar takdir kita masing2. Kita masih memiliki kesempatan untuk lebih baik dalam hidup ini. Maneman lah rek cuma sekali kok. Kita masih bisa melakukan banyak hal.
Kita bisa menikah dengan orang yang kita harapkan. Kita bisa berdagang. Berbisnin. Membangun rumah. Jalan-jalan. Punya anak, punya cucu.
Bukankah hidup ini akan bila kita tidak lebih baik dari kemarin.
udah deh gak usah kejebak di masa lalu. gagal move on ntar
Maka selamat menggapai mimpi gaes.
Hiduplah dan bahagialah heheh
Minggu, 21 Februari 2016
Teman dan keluarga
Aku punya difinisi teman sendiri. Kadang aku menempatkan posisi prioritas teman melebihi keluargaku. Simpel saja alasannya, karena keluarga itu pasti bertahan apapun keadaannya. Keluarga pasti ada buat kita. Namun tidak untuk teman. Teman itu harus ada perlakuan khusus mempertahankannya.
Sering ibuk curhat gitu dan beliau menyatakan keiriannya karena aku lebih memilih friend time daripada family time. Ya begitu agak jahat agak durhaka sih. Namun aku tidak pernah kok punya masalah keluarga. Alhamdulillah harmonis.
Masalah teman ya. Aku tak tahu kenapa tapi mereka selalu saja ada untuk melengkapi. Ada ada saja. Seperti kala aku ngekos jauh dengan keluarga, teman menjadi makhluk pertama pemenuh kebutuhan, teman suka duka, dan membuat alur cerita hidup ini begitu istimewa. Sehingga bila diceritakan, akan lebih seru ceritaku dengan temanku dari pada keluargaku.
Semua setuju lah jika kita bisa lebih seru bila bersama teman. Lebih bisa all out lah. Ketewa juga akan lebih lepas bahkan saat sedih bisa lebih terbuka.
Analoginya adalah teman itu adalah teras rumah. sementara keluarga itu kamar tidur. Kau akan bisa lebih nyaman bermain berekspresi bersosialisasi di teras rumah. Bisa melakukan banyak hal. Bahkan bisa melihat keluar rumah lebih leluasa. Sementara keluarga seperti kamar tidur. Kamu nyaman istirahat disana. Kamu memiliki privasi. Kamu lebih hangat disana.
Teman semua adalah teman. Kita punya kenangan karena kita memulai cerita dengan pertemuan dan perkenalan dan menunda cerita itu dengan perpisahan. Tentunya bukan mengakhiri cerita karena kita bisa saja ketenu diwaktu mendatang. Ya semua cerita diakhiri dengan kematian itu pasti. Teman SD teman SMP teman SMA teman Kuliah teman Kampung teman nongkrong dan teman2 yang lain.
Teman hidup itu penting.
Bahkan teman pun bisa menjadi kata kerja. "Menemani". Nah keluarga bisa saja menemai kita dan akhirnya mereka menjadi teman. Bisa bisa bisa
Karena kata teman ini begitu spesial.
Tuhan menciptakan teman ini sebagai pelengkap cerita kehidupan kita di dunia. Tentu teman baik yang bia kita gauli. Supaya berkah. Kalo berkah hidup jadi lancar. Nah temanlah yang melancarkan hidup kita.
Bagiku aku bahagia punya teman2 yang mengenalku. Aku bersyukur dengan Allah dipertemukan dengan mereka. Aku berharap kita bisa bertemu diberikan umur panjang. Karena melihat wajah mereka saja aku sudah bahagia.
Pertemuan itu akan indah setelah perpisahan.
Sering ibuk curhat gitu dan beliau menyatakan keiriannya karena aku lebih memilih friend time daripada family time. Ya begitu agak jahat agak durhaka sih. Namun aku tidak pernah kok punya masalah keluarga. Alhamdulillah harmonis.
Masalah teman ya. Aku tak tahu kenapa tapi mereka selalu saja ada untuk melengkapi. Ada ada saja. Seperti kala aku ngekos jauh dengan keluarga, teman menjadi makhluk pertama pemenuh kebutuhan, teman suka duka, dan membuat alur cerita hidup ini begitu istimewa. Sehingga bila diceritakan, akan lebih seru ceritaku dengan temanku dari pada keluargaku.
Semua setuju lah jika kita bisa lebih seru bila bersama teman. Lebih bisa all out lah. Ketewa juga akan lebih lepas bahkan saat sedih bisa lebih terbuka.
Analoginya adalah teman itu adalah teras rumah. sementara keluarga itu kamar tidur. Kau akan bisa lebih nyaman bermain berekspresi bersosialisasi di teras rumah. Bisa melakukan banyak hal. Bahkan bisa melihat keluar rumah lebih leluasa. Sementara keluarga seperti kamar tidur. Kamu nyaman istirahat disana. Kamu memiliki privasi. Kamu lebih hangat disana.
Teman semua adalah teman. Kita punya kenangan karena kita memulai cerita dengan pertemuan dan perkenalan dan menunda cerita itu dengan perpisahan. Tentunya bukan mengakhiri cerita karena kita bisa saja ketenu diwaktu mendatang. Ya semua cerita diakhiri dengan kematian itu pasti. Teman SD teman SMP teman SMA teman Kuliah teman Kampung teman nongkrong dan teman2 yang lain.
Teman hidup itu penting.
Bahkan teman pun bisa menjadi kata kerja. "Menemani". Nah keluarga bisa saja menemai kita dan akhirnya mereka menjadi teman. Bisa bisa bisa
Karena kata teman ini begitu spesial.
Tuhan menciptakan teman ini sebagai pelengkap cerita kehidupan kita di dunia. Tentu teman baik yang bia kita gauli. Supaya berkah. Kalo berkah hidup jadi lancar. Nah temanlah yang melancarkan hidup kita.
Bagiku aku bahagia punya teman2 yang mengenalku. Aku bersyukur dengan Allah dipertemukan dengan mereka. Aku berharap kita bisa bertemu diberikan umur panjang. Karena melihat wajah mereka saja aku sudah bahagia.
Pertemuan itu akan indah setelah perpisahan.
Langganan:
Postingan (Atom)