Posisi merupakan bagian yang
terpenting dalam sebuah organisasi. Namun tidak dalam hidup ini. Semua orang
berpikiran demikian. Dan saya yakin anda pun begitu. Terutama yang memang basic
dalam dirinya itu adalah sifat seorang leader. Dalam islam, hukum amanah
pemimpin sangat tegas. Karena, nantinya amanah tersebut merupakan pertanggung jawaban di akhirat
kelak. Kita bisa lihat sekarang fenomena perebutan kekuasan. Di Indonesia saja,
gontok-gontokan jadi bumbu untuk siklus pergantian kekuasaan ini. Nafsu tidak
bisa di kendalikan. Sehingga ambisi menjadi modal untuk nekad mengajukan
kelayakan diri menjadi pemimpin. Dalam sholat sudah ada syarat untuk mnjadi
imam. Nah bukan berati seorang makmum ini tidak berati. Bahkan makmum ini
haruslah bisa bersinergi dengan pemimpinnya.
Seperti yang dicontohkan oleh
Khalid bin al-Walid mengajarkan keikhlasan kepada kita untuk menjadi rakyat
yang sebaik-baiknya.
BERIKUT ADALAH KISAH DARI KHALID.....
Khalid bin al-Walid, diberi
gelar oleh Nabi SAW Saifu-Llah al-Maslul (Pedang Allah yang terhunus). Nabi pun
mendoakannya, agar senantiasa diberikan kemenangan dalam setiap peperangan.
Saat Perang Mu’tah, ketika itu Nabi menunjuk Usamah bin Zaid, sebagai panglima.
Jika dia gugur, maka ‘Abdullah bin Rawwahah yang menggantikannya. Jika dia
gugur, maka Ja’far bin Abi Thalib, yang menggantikannya. Begitulah akhirnya
peperangan Mu’tah itu terjadi.
Akhirnya, ketiga panglima yang
ditunjuk oleh Nabi pun satu per satu gugur sebagaisyuhada’ saat Perang Mu’tah, namun perang belum
usai, Khalid bin al-Walid tampil mengambil komando pasukan. Allah pun
membuktikan mukjizat Nabi SAW. Doa Nabi untuk kemenangan Khalid pun, dengan
izin dan pertolongan Allah, terbukti. Hingga sepanjang hayatnya, tidak kurang
dari 100 peperangan dia lalui. Dan, tidak ada satu pun bagian tubuhnya yang
tidak terkena sabetan pedang, tusukan panah dan tombak. Itulah Khalid.
Ketika Abu Bakar as-Shiddiq
menjadi Khalifah, Khalid pun ditugaskan menumpas pemberontakan orang-orang
murtad. Selesai dari tugas ini, Khalid pun ditugaskan oleh Abu Bakar untuk
berangkat ke Irak, menaklukkan wilayah itu. Pada saat yang sama, Abu ‘Ubaidah
al-Jarrah, Syarahbil bin Hasanah, Yazid bin Abu Sufyan dan ‘Amru bin al-‘Ash
ditugaskan oleh Abu Bakar untuk menaklukkan Syam. Panglima tertinggi dari
keempat kelompok pasukan ini adalah Abu ‘Ubaidah al-Jarrah.
Namun, pasukan ini tidak
berhasil menembus pertahanan tentara Romawi. Mereka hanya sampai di Sungai
Yarmuk, yang berbatasan dengan Yordania dan Suriah. Dalam waktu yang lama,
mereka tertahan di sini. Padahal, di antara pasukan mereka ada 100 veteran
Perang Badar, yang kedudukannya di sisi Allah dan Rasul-Nya sangat tinggi.
Justru ini yang menjadi pertanyaan besar Khalifah Abu Bakar. Maka, Abu Bakar pun
menulis surat kepada Khalid, yang saat itu telah berhasil membebaskan Irak,
agar segera berangkat ke Yarmuk.
Hanya dalam waktu lima hari,
Khalid dan pasukannya pun sampai ke Yarmuk. Mereka tidak beristirahat, dan
tidak melalui jalan yang biasa dilalui oleh orang. Sebelum sampai di sana,
Khalid menulis surat kepada Abu ‘Ubaidah, tentang pemberhentian Abu ‘Ubaidah
oleh Abu Bakar, dan pengangkatan Khalid untuk menggantikannya. Abu ‘Ubaidah
tidak marah, dan menerima keputusan ini dengan lapang dada. Maka, tampuk
komando tertinggi pasukan Islam di Yarmuk pun di tangan Khalid.
Perang Yarmuk yang dahsyat itu
pun meletus pada tahun 13 H. Di saat perang sedang berkecamuk, dan Khalid
tengah mengatur pasukan dan strategi perang, tiba-tiba utusan ‘Umar bin
al-Khatthab, yang baru saja diangkat menjadi Khalifah, menggantikan Abu Bakar,
datang menghadap Abu ‘Ubaidah. Utusan itu menyampaikan surat pemberhentian
Khalid, dan pengangkatan Abu ‘Ubaidah sebagai panglima tertinggi di Yarmuk.
Namun, dalam situasi seperti itu, Abu ‘Ubaidah tidak langsung menyampaikan
keputusan tersebut kepada Khalid, hingga Perang Yarmuk berakhir, dan kemenangan
di pihak kaum Muslim.
Begitu
perang usai, keputusan itu pun disampaikan oleh Abu ‘Ubaidah kepada Khalid. “Mengapa Anda tidak menyampaikan keputusan itu, begitu sampai
kepada Anda?” tanya Khalid kepada Abu ‘Ubaidah. “Saya tidak ingin mengganggu kosentrasi Anda dalam memimpin
serangan. Lagi pula, kita bersaudara (sesama Muslim). Apa salahnya, jika
saudara dipimpin oleh saudaranya sendiri.” Khalid
tidak marah. Meski jasanya dalam Perang Yarmuk begitu luar biasa. Setelah
Perang Yarmuk, Khalid diperintahkan oleh Abu ‘Ubaidah untuk menerobos benteng
Damaskus, yang tingginya mencapai 6 m, tebal 3 m, dikelilingi parit yang
dialiri air selebar 3 m.
Selama 4 bulan, ada yang
mengatakan sampai 6 bulan, pasukan ini mengepung benteng Damaskus. Hingga
akhirnya, Allah pun membuktikan kembali mukjizat Nabi, kemenangan di tangan
Khalid. Dengan segala prestasinya itu, membuat kawan dan lawan menaruh hormat
setinggi-tingginya kepada Khalid. Inilah yang Ibn Qais memberikan sanjungan
yang begitu tinggi kepada Khalid. Merasa tersanjung dengan pujiannya, Khalid
pun memberikan hadiah kepadanya. Ada yang mengatakan, 500 Dinar, ada yang
mengatakan 5000 Dinar, dan 10,000 Dinar.
Bagi
Khalid, apa yang dilakukannya tidak salah, karena Rasul pun pernah memberikan
hadiah Burdah (surban
hijau) Nabi SAW kepada Ka’ab bin Zuhairi, karena sanjungannya kepada Nabi.
Namun, 500 Dinar, 5000 Dinar atau 10,000 Dinar yang dihadiahkan Khalid dinilai
oleh ‘Umar tidak pantas diberikan kepada seorang penyair.“Dari mana dia mendapatkan uang sebanyak itu?” tanya
‘Umar. Khalid pun diadili. Di depan Abu ‘Ubaidah dan ‘Umar, Khalid menegaskan,
bahwa harta itu adalah bagian ghanimah-nya.
‘Umar yang dikenal zuhud dan wara’ itu pun khawatir, jika ada pejabatnya yang
melakukan tindakan yang tidak patut, baik sebagai pribadi maupun pejabat
negara. Dia khawatir, bagaimana kelak akan memberikan pertanggungjawaban di
hadapan Allah. Dalam riwayat yang lain dituturkan, bahwa ‘Umar memecat Khalid
bin al-Walid karena khawatir dikultuskan, “Saya tidak memecat Khalid bin al-Walid karena benci atau pengkhianatannya. Tetapi, karena semua orang sudah terpesona, saya khawatir orang hanya
percaya kepadanya dan hanya akan berkorban untuknya. Maka saya ingin mereka tahu, bahwa Allah Maha Pencipta dan supaya mereka tidak menjadi sasaran
fitnah.”
Namun, ‘Umar baru menyadari
kekeliruannya tentang Khalid, saat Khalid telah menghadap kepada Allah. Khalid
tidak meninggalkan harta sedikit pun. Khalid ternyata miskin. ‘Umar pun
menyesal atas tindakannya kepada Khalid. “Kenapa Anda memecat dia, saat itu?” tanya
‘Ali kepada ‘Umar. “Iya, saya menyesal. Karena saya tidak tahu
kondisi dia yang sesungguhnya.” Begitulah keikhlasan Khalid bin al-Walid,
dan begitulah kezuhudan dan kewara’an ‘Umar bin al-Khatthab.
Saat menjelang ajalnya tahun 21
H, Khalid berkata kepada Abu Darda ra, “Wahai Abu Darda, bila kelak ‘Umar al-Khattab
ra wafat kelak, akan melihat sesuatu yang kamu benci terjadi.” Sambil
mengelap air matanya, ia berkata lagi, “Aku memang merasa sedikit
kecewa dengannya dalam bebarapa hal, tetapi setelah aku pikir di saat aku sakit
ini, aku menyadari, bahwa ‘Umar melakukannya dengan ikhlas dan hanya
mengharapkan rahmat Allah dari setiap tindakannya.” [] Roni R/HAR dari berbagai sumber
Tidak ada komentar:
Posting Komentar