Ini
adalah kisah ku dan motorku. Ya sesuai judulnya hehehe. Motorku honda blade. Ya
bladuk merupakan plesedan dari blade itu sendiri. Filosofi lainya ialah karena
motor ini sangat sering berdebu. Bleduk dalam bahasa jawa artinya berdebu. Maka
cocoklah bleduk ini disematkan kepada motorku ini. Dan kalian tahu, aku sangat
suka dengan motor ini. Sudah seperti sahabat sendiri. Walaupun benda mati, aku
mencintainya. Dan aku merasakan cinta si bladuk dari performanya yang selalu
ciamik dan juga menemaniku kemana saja dalam suka maupun duka. Bahkan hingga
detik ini.
Awal
pertemuan kami, ketika itu mendekati ulang tahunku yang ke 16 tahun. Sekitar semester
genap waktu kelas 10. Ya sengaja dibelikan oleh orang tua agar mobilitas ku
mudah. Jogja-magelang. Kala itu sudah punya SIM sih, karena nembak. Eheheh cie
nembak. Ketika itu hari sabtu lupa tanggalnya pokoknya hari senin itu ulang tahunku.
Nah hari sabtu (sebelum senin) setelah pulang sekolah aku disuruh pulang ke
Magelang oleh ibuku. Maka setelah eksul pramuka aku langsung cabut bersama
kawan-kawan yang juga dari berasal dari Magelang. Rombongan deh ceritanya.
Sampai dirumah
sekitar bada isya aku sampai rumah orang tuaku di Muntilan, Magelang. Kumasukan
motor supra fit yang dulu kupakai sebelum bersama si Bladuk ini.Dan Aku melihat
sosok motor dengan bentuk yang keren. Warnanya merah dengan No POL AA 6853 VK.
Honda blade 110cc keluaran 2009. Akupun tanya ke ibuku, “motore sinten niki
buk?” (padahal tanyanya pake bahasa jawa ngoko atau bahasa jawa yang biasa
bukan krama halus, biar kelihatan anak sholeh). Aku berharap motor ini punya
keluarga saya, lumayanlah bentuknya kece heheheh. Ibuk menjawab “nggone
tetangga le”. Oalah kirain, ya sudah deh. Akhirnya aku makan trus tidur.
Hari minggu
kulewati seperti anak kecil. Nonton kartun. Nglontang nglantung dirumah bak
pengangguran yang bingung mau mengerjakan apa. Siang pun berlalu, aku mandi dan
bersiap untuk ke Jogja merantau lagi untuk ngilmu. Sorepun datang aku siap
untuk pergi. Pamit ke ibuk dan bapak. Terus dikasihkan kunci dengan bentuk yang
berbeda. Bukan kunci supra fit. Tapi kunci Honda yang baru dan juga STNK blade.
Terkejut iya lah. Seneng lah. Tapi ya biar tetep stay cool aku mencoba biasa
aja. Sambil senyum-senyum dikit gitu hehehe. TERIMA KASIH BABE IBUK. Akupun cus
ke jogja dengan NEW STYLE.
Hari-hari
kulewati dengan si bladuk yang masih orisinil. Kupakai untuk jalan-jalan
mengelilingi jogja, ketika aktif di PMI kota dan juga di Pramuka Saka Bahari
kota Jogja. Bladuk mengantarku sehingga aku hapal betul seluk beluk kota jogja.
Walaupun 110 cc aku pikir motor ini terhitung cepat dan lincah. Cocok bgt deh
dengan bentuk tubuh saya yang kurus waktu itu. namanya juga jodoh.
Si Bladuk
mulai berubah ketika teman-teman di aliyah mulai terjangkit virus touring.
Penyebabnya satu teman kami, Khanif Novianto. Gara-gara dia aku juga tertarik
di dunia per-touringan hingga modif motor. Aawalnya ya ngganti lampu, masang
klakson, masang box yang biasa disebut orang awam krombong makanan, masang
stiker pernak-pernik, hingga membedel knalpot agar suaranya keras. Brum brum
brum. Hehehe. Teman-teman pun juga melakukan sama tapi ya mereka lebih modal. Aku
sering diberi oleh teman yang bekas trus kupakai. Seperti jaket touring aku
dapat dari hanif, box dari mas sunar kudapat dengan harga yang sangat miring,
klakson dari rully dan barang-barang lainnya. Pun berlanjut kami membuat club
touring di sekolah. Juga gabung klub touring di Jogja sesuai jenis motor
masng-masing.
Pernah kala
itu ketika kami kelas 2 kami touring sampai kediri, silaturahmi ke Pare tempat
Les bahasa Inggris kami dulu. Waktu itu kakak kelas kami sedang UN jadi kami
dan kelas 10 libur. Nah malam senin tiba-tiba hanip sms ke aku nyletuk pengen
ke kediri. Aku iyakan deh. Akhirnya ngajak rully dan hasan untuk ikut. Malamnya
aku izin bapak dan dibolehkan hehehe (ceritanya mekso sih mbujuk rayu). Malam itu
pun diputuskan kami berempat berangkat kekediri. Ndadak banget, tapi justru itu
yang seru. Paginya kami kumpul di sekolah. Persiapan beli ini itu, mempelajari
peta, persiapan snek dan berdoa. Sebelunya sih kita udah touring kecil-kecilan
dari gunung kidul hingga kebumen. Jadinya sudah lumayan biasa.
Jam 9 kami
berangkat. Perjalanan sampai klaten cukup lancar tapi ternyata skrup platku
ternyata kendor akhirnya kami merapat untuk memperbaiki. Baru awal ada
halangan. Tapi lanjuttt. Sampai solo kami cukup dibingungkan dengan banyak
jalan yang searah. Bahkan kami hampir salah jalan dimana jalan itu menuju
karang anyar. Ya akhirnya tanya deh. Gak lucukan touring kesasar hehehe. Sampai
seragen jam 11 kami ke rumah rekan kami di aliyah, Triana nur Baity namanya. Rumahnya
di Gemolong sragen. Rumahnya di pinggir masjid. Akhirnya kami mampir untuk
istirahat dan silaturahmi sekaligus minta sangu jajan hehehe. Jam 11.30an kami
berangkat lagi. Setelah Sragentina terklihat gapura Selamat datang di Jawa
Timur. Kamipun tambah semangat dan memacu gas motor lebih kencang. Sampai dingawi
suasanna lumayan sejuk. Pohon dikanan kiri namun bisa sangat cepat. Sering kami
di salip bisa yang ugal-ugalan. Rasanya ingin sekali “mbandem bis itu”. tapi
tak tega da kami melanjutkan perjalanan lebih berhati-hati. Setelah jembatan
kertosono. Kami belok kanan dan menuruti plang kediri ke kanan. Kami pun makin
bergairah dan semakin kencang. Singkat cerita kami tiba di Pare pukul 3.
Sampai disana
kami langsung menuju tempat les-lesan FEE Center bertemu dengan tentor kami
dulu langsung di jamu luar biasa enak. Menyingkat cerita lagi kami ditawari
menginap amun teman kami rully ada urusan maka jam 21.00 kami pulang ke Jogja.
Perjalanan malam
lebih kencang karena jalan lumayan sepi. Klakson kami sering bunyikan untuk
membuka jalan. Dengan pernak pernik touring serta rompi yang menyala membuat
perjalanan lancar. Kecuali dengan bis. Sampai di ngawi ternyata rantai saya
putus sekitar pukul 1.20 dini hari. Dan untungnya hanip membawa tali pramuka di
box-nya. Kemudian ditarklah motorku. 110 meter kemudian ada bengel. Rantai di
sambung kembali dan gassss. Insiden selanjutnya hasan kehabisan bensin karena
indikator penunjuk bensin eror. Kembali kami muter2 nyari rumah yang jualan
bensin. Kami mengetuk pintu pada dini hari mengganggu orang tidur heheh. Tapi tidak
apa rejeki yang jualan bensin.
Menyingkat cerita
kembali hujan mendera kami. Bahkan sampai prambanan kami nyupir dengan posisi
tertidur. Lumayan jauh tidur sambil moorannya dan untungnya sepi. Sampailah kami
di masjid sekolah pukul 03.00. dan kami tertidur di masjid sekolah.
Begitulah nasib
si bleduk. Telah melewati perjalanan luar biasa dengan ku. Menambah ke-intiman
kami. Sekarang kami berada di Surabaya. Sering aku pulang menaiki dia. Tak jarang
pula kutinggalkan dia di surabaya.
Dulu saat
zamannya teledor, kunci motor sampe nduplikat 7 kali. Pernah juga jatuh 2 kali.
Ban sobek 1 kali. Namun bladuk tidak pernah mengeluh dengan kondisinya. Dia selalu
berperforma luarbiasa. Heran saja motor 110 cc minim modifan tapi ya larinya
kencang juga.
Namun kuliah
ini aku jarang bersama bladukku ini. Karena aku sering ngontel kalo kuliah. Mungkin
jika ada takziah atau main bareng temen sampe luar kota barulah budaallll. Inilah
aku dan motorku dengan sejuta cerita cinta kami. Gak tahu kenapa dia betah
dengan ku jarang rewel walaupun servise sering telat hehehehe.
Allahdulillah
terima kasih Tuhan atas rezekimu mempertemukanku dengan motorku ini. Semoga sampai
aku mati motor itu tetap bisa menyala dan brum brum brum kelilng jawa.
Thx bleduk atas
beribu-ribu kilometernya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar