Kamis, 24 Maret 2016

KEBANGGAN ORTU ITU YA KAMU


Sudah beberapa bulan tak pulang, rindu akan ibu, adek dan rumah kian mencuat. Baru kemaren ibu berterima kasih atas pemberian kecil dari ku sang anak yang pasti disayangnya hehehe. Di telepon tampak ibuk tertawa sambil berterima kasih dengan nada agak berteriak di awal malam. "waahhh leee makasih yaaaa hehehehe," suara ibu di telepon terasa nyaring walau tak ku loudspeaker HPku. berbasa-basi agak lama tampaknya ibu belum mau menutup telpon. Mencoba peka aku bertanya dalam hati, iki ibuk mesti kangen. Maklum ibuk di rumah hanya bersama adek. Ku bilang pada ibuk dengan nada lembut (hehehehe) "maaf buk besok libur 3 hari belum bisa pulang”. Suara ibu mulai menurun seiring pulsanya yang tersedot agak banyak. Malam itu aku merenung tentang kebahagiaan ibuku. Aku menganalisis secara tidak ilmiah, kenapa setiap kali bertelpon dengan ibuk, selalu yang ditanyakan kapan pulang. Walaupun pertanyaan yang sering kuharapkan adalah, masih punya uang le. Hehehe. Selalu tanya kapan pulang. Kapan pulang. Padahal jarak magelang surabaya hanya 360 km. Jarak yang bisa ditempuh bis dengan kecepatan 90an km/jam dalam waktu 9an jam dengan bonus macet, lalu lintas dan sebagainya. Maka timbul pertanyaan lain lagi, memangnya kalo aku pulang ibu bahagia? Ahhh sudah lah dengan banyak pertanyaan. Kalo memang benar jika dengan kehadiran kita di rumah bisa membuat ibuk(orang tua) kita bahagia, maka seharusnya cita-citaku dan sebgaian orang (ingin membahagiakan orang tua) sudah terwujud. Sesimpel itukah? Aku terlalu gengsi untuk tanya ke ibuku.Dahulu aku pikir membahagiakan orang tua itu kita harus jadi orang sukses. Tolok ukur suksespun beragam. Ada yang bilang harus kaya, ada yang ingin jadi konglomerat, birokrat, teknokrat, bahkan sampe menyediakan kehidupan bagi orang yang melarat. Parameter membahagiakan orang tua ini pun harus besar. Harus WAH. Harus bisa jadi ini itu dengan hasil yang bahkan semua orang mengakui. Setelah menelaah lagi, membayangkan ketika di rumah, dan ketika ditelepon ibuk, aku menyimpulkan dengan yakin bahwa anak itulah alasan orang tua kita bahagia. Aku yakin itu.Lihat saja kenapa ibuk kita begitu senang ketika kita tersenyum dan tertidur pulas. Kenapa ibu kita begitu sedih ketika flu kecil maupun flu yang berat. Kenapa ayah kita tak kenal lelah membanting tulangnya guna menyediakan uang jajan kepada anaknya. Semua itu pastilah agar anaknya mendapatkan suasana hidup yang kondusif, yang aman. Maka harusnya kita semua setuju bahwa membahagiakan orang tua itu adalah bagaimana kita bersyukur punya orang tua yang begitu membahagiakan kita. Bagaimana kita bersyukur? Monggo kita semua punya cara masing-masing. Bagiku bersyukur karena memiliki orang tua super duper keren ini adalah dengan mendoakan ibuk agar tetap sehat, dan mendoakan ayah agar selalu tersenyum di surga-Nya Allah kelak. Dengan jujur kepada ibuk, dengan selalu tersenyum, dengan rajin meng-sms kabarku ke ibuk. Semoga tindakan itu membuat bahagia. AminMari kita tengok lagi masa lalu kita masing-masing bagaimana kita membahagiakan orang tua kita. Kita mulai ketika Allah memasukan nyawa kita ke dalam rahim ibu kita. Betapa bahagianya ibuk saat pertama kali tahu dirinya mengandung kita, ayah kita tahu saat istrinya mengandung calon ayahnya. (cie calon ayah). Kemudian saat kita lahir. Betapa pecah kebahagiaan orang tua kita menyasikan wajah mungil kita. Bahagia walau yang terdengar tangisan kita. Dengan bangga meng-azankan kita. Dengan PD-nya pula memberi nama kita (tanpa persetujuan kita). Lalu saat kita mulai bisa tersenyum menanggapi wajah-wajah konyolnya (mencoba menghibur), orang tua kita senangnya pasti minta ampun. Lalu ketika kita bisa tengkurap, merangkak, duduk sampe bisa berjalan. Wuuuh orang tua kita seneng gak tuh. Apalagi saat ketika ayah kita memaksa kita saat bayi bilang “papa!” trus kita bilang “Paapa”(dengan suara khas bayi), wuhhhh itu ayah pasti ngadakan syukuraaan se-Kampung deh merayakan kemajuan bayinya yang bisa bilang papa.Ternyata proses kita dari balita menjadi anak kecil(mulai bandel tuh) membuat orang tua bahagia. Sederhana sekali membauat bahagia orang tua kita. Namun itu tingkatan bayi. Berbeda saat kita SD kita membahagiakan orang tua dengan cara belajar yang giat dan juara kelas mungkin. Atau saat SMP bisa ikut lomba-lomba (walaupun lomba gambar) bisalah membuat bahagia. Dan seterusnya. Tentu kita punya cara membahagiakan orang tua dengan cara yang terbaik sesuai waktunya.Maka jangan berpikir terlalu muluk-muluk. Khawatirnya begini. Jika kita berhasil jadi orang besar dan hebat seperti bupati. Mungkin orang tua kita bangga, tapi sedih. Mungkin perhatian kita yang seharusnya buat mereka, buat masa tua mereka jadi terkalahkan oleh kepentingan orang lain. Jadi berpikirlah simpel. Mumpung ada kesempatan nih, mungin bisa SMS atau tanya kabar lah. Atau dengan kebiasaan yang baik seperti berkata jujur, menyapu halaman rumah membersihkan apalah dirumah. Atau bahkan memasakan air untuk ibu mandi air hangat bisa tuh. Hehehe terkadang hal simpel itu bisa membawa dampak yang besar. Manas ZulfikarYang merantau dan lagi memikirkan rumah.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar