Jumat, 25 Desember 2015

menampar muka sendiri

pernah menampar diri sendiri?
barusan aku mencobanya.

pertama menampar ringan
peek.
kedua lebih keras
peeeeekkkk
ketiga lebih keraass lagiii
cpleeekkkkk
keempat paling keraaassssss
pluuaaaaaaeeeekkkkkk
kelima (biar ganjil, sunnah) level KDRT
wuaaaaddduuuuuuhhhhhhhhh janc**********

Beda ya ditampar oleh orang lain dengan ditampar oleh diri sendiri. Kalo ditampar orang lain pasti sakit ya? Sakitnya tu di sini (di pipi) sama sakitnya tuh di sini (nunjuk hati). Sebenere saya gak tahu rasa, wong belum pernah. Dan semoga tidak akan pernah. hehehe. Kalo menampar diri sendiri sih kesannya lebih membangunkan diri. Biar bangun dari ngantuk. Biar melek

Bangun berati sadar. Melak itu juga sadar. kenapa harus bangun? Karena masa depan gak bisa kamu raih dengan tidur. Tidur dalam kemunafikan, kemalasan, kealayan, kehedonan, kemaksiatan, dan ke-yang berdosa lainnya.

bangun brooo manas yang gantengnya dipending sama Allah buat di Surga besok.

*agak serius

Kalo temen-temen sering kepo sosmed saya, mungkin pernah ya saya posting ini

"Pohon plastik di rumah saya mati karena saya tidak berpura-pura menyiramnya"

Kalimat tersebut saya kutip dari tulisannya Pak Rhenald Kasali, begitu menampar saya. Membuat melek. Memaksa saya untuk bergegas untuk bangun teru ngolet sejenak dan berpikir. Berpikir serius.

Ibaratkan begini, kamu pengen punya pohon dan pengen sekali berkegiatan merawatnya seperti menyiram memberi pupuk.Tapi kondisimu sekarang tidak akan memungkinkanmu untuk memiliki pohon tersebet. Dan saking ngebetnya dan kepengennya akhirnya kamu memaksakan diri untuk membeli pohon plastik yang murah. Sok-sokan punya ceritanya. Biar terlihat lebih meyakinkan akhirnya kamu menyiramnya layaknya pohon betulan. Dan dibebarapa kesempatan kamu akan mengandai-andai bahwa pohonmu mati karena kamu lupa menyram dsb. Terus baper begitulah.

Remaja kekinian.sering kali terjebak dengan kepura-puraan. Lha wong belum bisa apa-apa kok sok bisa. Belum kaya kok pengn beli macam-macam. Belum berkarya untuk lingkungan sekitar kok mau berkarya buat negara. Cobalah tengok dirimu generasi wacana.
http://www.jawapos.com/read/2015/10/19/7550/generasi-wacana/1

Kembali saya menampar diri ini dengan segala wacana yang ada yang katanya mimpinya pengen jadi Bupati Magelang tapi mana perjuangannya. Malah sekarang sedang curhat di blog nulis yang gak ada progresnya dan nantinya bakal memfosil menjadi tulisan yang percuma. Lihat lah kawan-kawanmu di magelang sudah bergerak semua. LHA KOEN LAPO AE LEE?? KULAIHMU LEE.. AMANAHMU LEE

Ya benar banyak harapan kita kalo kita tidak serius dan mengejarnya dengan cerdas maka harapan kita akan menjadi kosong kan ya?
Contohnya saya punya mimpi ditahun 2015 kemaren punya tabungan haji. Setidaknya dengan uang beasiswa yang didapat perbulan 100rb bisa lah untuk menabung. Tapi ya cuma jadi wacana saja. Gak berhemat. Jajan banyak. Boros. Dan sampek detik inipun tak tercapai. Akhirnya ya pohon plastik mati. Emang pohon plastik bisa mati?

Saya ada solusi sih, tapi hawanya masih kurang ngeh. Masih kurang untuk bangkit. Harus di AYO AYO AYO dulu sama kawan-kawan. Harus disemangati lagi. Harus nyari motivasi lagi untuk bangkit. Bulan lalu Alhamdulillah sekali sama Allah dikasih kesempatan bertemu Ricky Elson. (gak tahu? cari sendiri ya). Dengan kerendahan hati beliau dengan kemampuan yang dimilikinya dia bangun Indonesia ini dengan kemampuannya. Dengan cintanya. Walau tersendat dengan Mobil listriknya ia tetap berkarya dan mengabdikan diri langsung di beberapa daerah terpencil yang belum ada listrik. Walaupun dicaci sana sini lah tapi karena cintanya yang besar kepada Indonesia sehingga ada sebuah daerah bisa mendapatkan listrik dari karyanya.

Ada dua kunci yang bisa kita jadikan titik balik. NIAT dan CINTA.

“Innamal A’malu Binniat Wa Innama Likullimriin Ma Nawa. Famankana Hijratuhu illallah Wa Rasulihi Fahijratuhu Illallah Wa Rasulihi. Wa Mankanat Hijratuhu liddunya Yushibuha Au Imraatu Yankikhuha Fahijratuhu Ila ma Hajara Ilaihi”
(Sesungguhnya segala perbuatan itu disertai dengan niat dan segala perkara itu tergantung apa yang diniatkan. Maka barangsiapa hijrahnya karena Allah dan rasulNya Maka hijrahnya untuk Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa hijrahnya karena urusan dunia atau wanita untuk dinikahi maka hijrahnya untuk apa yang telah dihijrahinya tersebut)
maka perbaiki niat bahwa semua yang kita lakukan di dunia ini semata-mata untuk Allah.
BISMILLAH MANTAPKAN DIRI MARI BERUBAH. JANGAN JADI GENERASI WACANA.

KALO MULAI NGANTUK MARI MENAMPAR DIRI





Tidak ada komentar:

Posting Komentar