Subuh itu udara di Surabaya tak seperti biasanya.
Dengan tumbennya dinginnya tidak terlalu membuat badan menggilgil. Bisa
dibilang sejuk, tapi sejuk yang membuat semangat dan bahagia. Ya mungkin karena
suana Ramadhan yang mendukung. Gelapnya waktu itupun tidak seperti gelapnya
subuh pada biasanya. Gelapnya romantis. Kalo di film cinta mungkin seperti
adegan saat dua remaja menyatakan cinta di malam hari, atau pasangan yang
sedang dinner di restoran yang modelnya outdoor malam-malam gitu,
bintang-bintang bertaburan, dan ada bintang jatuh trus kita mengharapkan
sesuatu deh. Apalah itu pokoknya suasanyanya memang romantis, menyenangkan,
membahagiakan, dan eksotis. Kemungkinan paling benar ya, Allah SWT sedang
memberikan anugrah dan karunianya sehingga bisa dirasakan kecintaan-Nya kepada
semua makhluknya. Cieee Alhamdulillah......
Pembukaan yang cukup panjang memang
karena itu begitu spesial, seperti biasa, kalo sholat subuh berjamaah di Masjid
dekat dengan kontrakanku, ada pemandangan yang luar biasa. Ada sesosok yang
selalu ada di tiap waktu sholat. Beliau adalah orang yang paling semangat dalam
sholatnya. Beliau pula saya rasa yang paling ikhlas dan khusyuk dalam
sholatnya. Kenapa saya bilang begitu. Karena beliau terlihat lumpuh. Iya
lumpuh. Terlihat kaki sebelah kanannya kurang bisa digerakan dengan baik. Saya
tidak tahu namanya dan belum berani mengobrol. Dulunya beliau menggunakan
tongkat dengan penyangga berkaki tiga. Namun, sekarang beliau sudah tidak
memakai alat bantu tersebut. Tangan kanannya sama sekali tidak bisa digerakan.
Hipotesa tidak ilmiah saya menyakatan bahwa beliau pernah mengalami penyakit
stroke. Namun kemungkinan lain bisa saja. Subhanallah.
Beliau selalu ada di masjid sebelum
adzan berkumandang. Jarang sekali beliau datang saat antara adzan dan iqomah.
Ya satu dua kali pernahlah. Semoga langkah beliau selalu menjadi pahala dari
Allah SWT. Iseng-iseng saya mengawali diri untuk datang ke masjid lebih awal.
Dalam datangnya ke masjid terlihat beliau berdzikir. Setelah sampai shof
terdepan dengan jalan yang tertatih-tatih, beliau memulai sholat sunnahnya.
Karena tangan kanan beliau tidak bisa digerakan, saat takbiratul ikhram beliau
mengangkat tangan kanannya dengan menggunakan tangan kirinya. Setelah itu
tangan kanannya didekapnya didadanya dan ditahan dengan menggunakan tangan
kirinya. Padahal kan semestinya tangan kanan yang memegang tangan kiri. Tapi
Islam agama yang tidak menyulitkan namun tidak boleh dipermudah. Usaha beliau
saya nilai merupakan keringanan dalam sholat. Waallahualam. Saat akan rukuk
tangan kirinya dilepas dan tangan kanannya jatuh dengan sendirinya
bergelantungan. Rukunya kurang sempurna. Ya maklum badan tua dan tangan yang
ditaruh d lututnya hanya satu. Agak kesulitan. Sujudnya pun juga ikut
kesulitan. Tangan kanannya harus di gerakan oleh tangan kirinya sedemikian rupa
untuk mengikuti gerakan sholat seperti normalnya. Bahkan saat tasyahud akhir,
tangannya harus diletakan di pahanya oleh tangan kirinya. Telunjuknya tidak
bisa diacungkan. Sungguh kolaborasi tangan yang mengharukan.
Melihat sholat beliau jadi memancing
imajinasi saya untuk membayangkan bagaimanan keseharian beliau. Bagaimana
beliau makan dengan tangan kanannya. Bagaimana beliau menulis dengan tangannya.
Bagaimana beliau mengegas motornya. Bagaimana beliau mengoperasikan handphone-nya. Dan pertanyaan “bagaimana
beliau” yang lainnya. Untuk direnungkan sendiri saja kalo kita tangannya cacat
bagaimana, kalo tidak punya tangan gimana? Masih gak mau bersyukur? Semoga
Allah SWT melindungi kita. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar