Teruntuk Teman Kami, Manas Zulfikar
Salam sayang dari kami untukmu, Manas Zulfikar. Kami bisa merasakan betapa engkau sedang bersedih kini. Sedihlah, Manas. Menangislah hingga air matamu mengalirkan semua duka. Karena tangismu itu adalah obat bagi hatimu yang akan menjadi kokoh nantinya.
Salam sayang dari kami untukmu, Manas... Maaf, temanmu ini tidak bisa datang ke rumah hari ini. Rasanya sungguh luka. Temanmu ini ingin berlari ke tempat di mana ada yang bisa membawanya ke tempatmu. Mengusap tangismu dengan kedatangan seluruh teman-temanmu. Membesarkan hatimu agar kamu tidak punya kesempatan untuk merasa sendiri. Namun beribu maaf, Manas. Temanmu ini tidak bisa datang hari ini.
Salam sayang dari kami untukmu, Manas. Pagi ini, temanmu ini bangun dengan bayang-bayang engkau sedang tersenyum dengan wajah penuh keringat seperti engkau biasanya. Tersenyum lalu tertawa terbahak-bahak menertawakan sesuatu. Pagi ini, temanmu ini bangun dengan bayang-bayang engkau tak lagi secerah biasanya. Engkau tak lagi memiliki ayah untuk menemani hari-harimu lagi, untuk memberi nasehat, untuk menguatkanmu dikala ragu dalam meraih mimpi. Temanmu ini menangis, Manas. Rasanya begitu pilu dan sesak.
Engkau adalah teman yang amat baik bagi kami. Teramat baik. Teringat engkau selalu jadi pemersatu di antara kami semua, teman-temanmu. Engkaulah seseorang yang seringkali merasa rindu kepada kami. Engkau adalah sebuah realita kebanggaan kami semua. Engkau, adalah satu dari yang terbaik di antara kami.
Tetap semangat menuntut ilmu di Surabaya, Manas... Tetap tersenyum seperti biasa. Tetaplah jadi Manas yang kuat. Manas yang manis di hati kami semua. Banyaklah berdoa, Manas. Temanmu ini akan ikut membantu engkau berdoa. Semoga Ayah khusnul khotimah.
Thank you for still alive, Manas. Berilah kekuatan pada keluargamu. Karena engkau adalah pemantik untuk tungku yang kau jaga.
Salam sayang dari kami untukmu, Manas... Maaf, temanmu ini tidak bisa datang ke rumah hari ini. Rasanya sungguh luka. Temanmu ini ingin berlari ke tempat di mana ada yang bisa membawanya ke tempatmu. Mengusap tangismu dengan kedatangan seluruh teman-temanmu. Membesarkan hatimu agar kamu tidak punya kesempatan untuk merasa sendiri. Namun beribu maaf, Manas. Temanmu ini tidak bisa datang hari ini.
Salam sayang dari kami untukmu, Manas. Pagi ini, temanmu ini bangun dengan bayang-bayang engkau sedang tersenyum dengan wajah penuh keringat seperti engkau biasanya. Tersenyum lalu tertawa terbahak-bahak menertawakan sesuatu. Pagi ini, temanmu ini bangun dengan bayang-bayang engkau tak lagi secerah biasanya. Engkau tak lagi memiliki ayah untuk menemani hari-harimu lagi, untuk memberi nasehat, untuk menguatkanmu dikala ragu dalam meraih mimpi. Temanmu ini menangis, Manas. Rasanya begitu pilu dan sesak.
Engkau adalah teman yang amat baik bagi kami. Teramat baik. Teringat engkau selalu jadi pemersatu di antara kami semua, teman-temanmu. Engkaulah seseorang yang seringkali merasa rindu kepada kami. Engkau adalah sebuah realita kebanggaan kami semua. Engkau, adalah satu dari yang terbaik di antara kami.
Tetap semangat menuntut ilmu di Surabaya, Manas... Tetap tersenyum seperti biasa. Tetaplah jadi Manas yang kuat. Manas yang manis di hati kami semua. Banyaklah berdoa, Manas. Temanmu ini akan ikut membantu engkau berdoa. Semoga Ayah khusnul khotimah.
Thank you for still alive, Manas. Berilah kekuatan pada keluargamu. Karena engkau adalah pemantik untuk tungku yang kau jaga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar